Senin, 12 Maret 2012

Pengemis Jalanan? Berpura-pura ataukah sungguh-sungguh miskin??

  Pengemis Jalanan, Berpura-pura ataukah sungguh-sungguh miskin ??




   Angka kemiskinan di Indonesia sudah semakin bertambah. Sangat ironis memang melihat masih tingginya angka kemiskinan ini. Negara dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah masih terbelenggu oleh jeratan kemiskinan. Belenggu kemiskinan ini terkadang justru menimbulkan sebuah pola perilaku masyarakat yang cenderung mengarah pada penyimpangan norma bangsa. Bentuk nyatanya yaitu dari tingginya jumlah masyarakat yang aktifitas sehari-harinya menjadi pengemis dan gelandangan. 
   
 Tentu kita sering melihat pengemis ada di manapun, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor dan sebagainya. Mereka berpenampilan lusuh, kumal untuk meminta sumbangan. Terkadang, kita merasa iba dan simpatik dan akan membantu memberi semampu kita.  Tetapi, sebenarnya tidak semua pengemis itu miskin dan tidak mampu bekerja.


 Saya pernah memiliki pengalaman tidak mengenakan tentang pengemis. Sewaktu saya sedang di warung milik ibu kost saya, ada seorang pengemis ibu-ibu yang menghampiri dengan raut muka memelas dan berpenampilan kumal. Ia setiap hari mengemis ke sini. Kemudian tanpa berfikir panjangpun saya dan teman memberinya uang. Kemudian, keesokan harinya anak dari ibu kost (Fitri) bertemu dengan si pengemis di sebuah counter handphone. Iapun curiga dan bertanya kepada penjual counter “ Bapak maaf, apa yang ibu itu beli di sini?” kemudian penjualpun menjawab “Ia membeli 1 handphone Black Berry mas …”. Subhanalloh betapa terkejutnya mba Fitri  mendengar informasi tersebut.
    
  Fenomena inilah yang menjadi tanda tanya masyarakat sekitar saya. Sudah sering sekali masyarakat sekitar saya menemukan pengemis yang berpura-pura miskin padahal ia kaya, hanya saja tidak mau bekerja. Mereka lebih memilih mengemis karena berfikir bahwa mengemis sangatlah mudah dan bisa mendapatkan uang banyak tanpa berfikir.
   
  Sebenarnya, mengemis itu bukanlah jalan terakhir. Kita sebenarnya dapat memanfaatkan tubuh dan otak kita untuk bekerja terkecuali orang yang memiliki kekurangan fisik. Misalnya, ibu-ibu rumah tangga dapat membantu pendapatan suami dengan cara membuat perkumpulan dan melahirkan sesuatu yang bernilai ekonomis/dapat di jual. Atau juga dapat menjadi tenaga pencuci, gosok ataupun baby sitter.
  
   Anak-anak yang putus sekolah pun dapat membantu orang tua dengan cara bejualan makanan yang orang tua telah buat untuk di jual ataupun juga dengan mengamen, asalkan tidak mengemis itu sudah lebih baik dan mulia. Untuk seorang ayah/suami haruslah bekerja lebih giat dan mencari nafkah yang halal, selagi tubuh dan otak dapat berfungsi dengan baik, alangkah mulianya tidak mengemis karena Islam mengajarkan kita untuk selalu bersedekah dan memberikan pertolongan kepada orang yang memerlukan tetapi Islam tidak mengajarkan pengikutnya menjadi peminta-minta atau pengemis.




Marilah mempertahankan budaya positif
 dan tinggalkanlah budaya negatif !






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar