Rabu, 01 Juli 2015

Jurnal 6 - Etika dan Profesionalisme TSI





Pemanfaatan Fasilitas Internet yang Tidak Sesuai dengan penggunaanya berdasarkan Kode Etik
Dimas Haryo Adhiatama1 ,Sri Rahayu2,Intan Lestari3
Jurnal Etika & Profesionalisme
Universitas Gunadarma
Jalan Margonda Raya no. 100, Depok 16424 Gedung 4 Lantai 1 D419
Email : infokom@gunadarma.ac.id

1dimryo@gmail.com
2in.intanlestari@gmail.com
3ayuuuunya@gmail.com

Abstrak -  Perusahaan memiliki kode etik dalam setiap departemen atau profesi. Seorang CEO perusahaan yang mempunyai visi dan misi, harus menciptakan ketentuan agar dapat tercapainya kedua hal tersebut. Perusahaan yang dapat mempengaruhi organisasi lainnya melalui kode etik yang di bangun dapat dikatakan berhasil. Perkembangan teknologi lambat laun akan mengubah sebuah standar kode etik yang harus disesuaikan. Jaringan internet merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam berbagai bidang profesi bahkan kehidupan. Fasilitas yang diberikan oleh sebuah perusahaan dalam rangka mendukung rangkaian kegiatan yang ada di perusahaan. Namun, pemanfaatan penggunaan fasilitas ini seringkali disalahgunakan oleh karyawan. Berdasarkan sebuah survey, jika seorang karyawan telah melakukan pekerjaannya, seringkali dia menggunakan fasilitas ini untuk kepentingan pribadi diluar kegiatan perusahaan. Aspek ini dilihat sebagian kalangan sebagai sebuah pelanggaran kode etik, dimana akan mengganggu jalannya aktivitas jaringan lain atau kesalahan penggunaan yang menyebabkan data rusak, hilang, dan sebagainya. Sebagian lagi menganggap mereka berhak atas penggunaan fasilitas dikarenakan mereka telah menyelesaikan tugasnya. Jaringan yang penuh dengan aktifitas yang tidak perlu, tentu dapat menghambat proses kegiatan perusahaan. Maka haruslah diri sendiri memiliki kode etik dan perilaku yang sesuai.

Abstracts - Company has a code of ethics in every department or profession. A CEO of a company that has a vision and mission, must create conditions in order to achieve both. Companies that can influence other organizations through a code of ethics that is built can be said to be successful. Technological developments will gradually change a standard code of conduct that should be adjusted. Internet network is very influential in various professional fields and even life. Facilities provided by a company in order to support a series of activities in the company. However, the use of the use of these facilities are often abused by employees. Based on a survey, if an employee has to do his job, he often uses this facility for personal interests outside the company's activities. This aspect is seen in some quarters as a violation of the code of conduct, which would disrupt other network activity or errors that lead to the use of the data is damaged, lost, and so on. Some of them consider themselves entitled to use the facilities because they have completed their duties. Full network activity that is not necessary, of course can hinder the process of corporate activities. Then it must itself have a code of ethics and appropriate behavior.

Kata Kunci - Praktik, IT, Internet, Salahguna.




BAB 1
PENDAHULUAN

Internet merupakan salah satu penghubung antara jaringan satu dengan dunia luas. Pemanfaatan internet ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan dalam meningkatkan sebuah produktivitas dengan kepraktisan yang ada. Melalui teknologi jaringan ini hampir semua aktifitas di berbagai bidang meningkat sangat pesat dalam perkembangannya. Perusahaan besar pasti menggunakan sebuah provider atau layanan internet untuk mendukung aktifitasnya. Tak jarang orang dikantor tidak menggunakan internet.
Dalam pemanfaatan teknologi, khususnya penggunaannya tentu memiliki etika dan kode etik tersendiri. Internet di perusahaan yang seharusnya digunakan untuk menyokong aktifitas bisnis malah dimanfaatkan sebagai hiburan semata oleh sebagian pegawainya. Tentu hal ini mempengaruhi kinerjanya dalam bekerja. Namun hal ini menjadi sebuah dilematisasi yang alasannya sebagian besar pengguna internet hanya sekedar iseng mencari informasi yang menjadi tanggungan perusahaan.
Penyalahgunaan atau pemanfaatan internet yang salah ini menimbulkan dampak yang sangat besar bagi perusahaan. Dampak tersebut hilangnya data penting yang mungkin pengguna tidak mengetahui sebabnya. Pada saat browsing atau download sesuatu file, dimanfaatkan oleh hacker untuk melakukan spoofing sehingga data perusahaan ikut terbawa. Jaringan internet sesungguhnya sangat membantu namun terkadang malah menjadi ancaman. Kode etik yang dilanggar oleh para pengguna ini adalah penyalahgunaan wewenang dalam memanfaatkan internet sehingga berdampak pada akses atau kecepatan dari jaringan di perusahaan itu.



BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1  Pengertian Etika
Etika secara umum didefinisikan sebagai suatu kepercayaan atau pemikiran yang mengisi suatu individu, yang keberadaanya bisa dipertanggung jawabkan terhadap masyarakat atas perilaku yang diperbuat. Biasanya pengertian etika akan berkaitan dengan masalah moral. Moral adalah tradisi kepercayaan mengenai perilaku benar dan salah yang diakui oleh manusia secara universal. Perbedaanya bahwa etika akan menjadi berbeda dari masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Sebuah survei menyebutkan bahwa penggunaan software bajakan yang berkembang di Asia saat ini bisa mencapai lebih dari 90 %, sedangkan di Amerika kurang dari 35 %. Ini bisa dikatakan bahwa masyarakat pengguna software di Asia kurang etis di banding di Amerika. Contoh lain misalnya kita melihat data orang lain atau perusahaan lain yang menjadi rahasinya, berarti kita bertindak kurang etis.
2.2  Perilaku Moral dan Konsep Etika
Tindakan kita juga diarahkan oleh etika (ethics). Kata ethics berakar dari bahasa Yunani ethos, yang berarti karakter. Etika adalah satu set kepercayaan, standar, atau pemikiran yang mengisi suatu individu, kelompok atau masyarakat. Semua individu bertanggung jawab pada masyarakat atas perilaku mereka. Masyarakat dapat berupa suatu kota, negara, atau profesi.
Tidak seperti moral, etika dapat sangat berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Kita melihat perbedaan ini dibidang komputer dalam bentuk perangkat lunak bajakan- perangkat lunak yang digandakan secara ilegal lalu digunakan atau dijual.
Hukum adalah peraturan perilaku formal yang dipaksakan oleh otoritas berdaulat, seperti pemerintah, pada rakyat atau warga negaranya. Hingga kini sangat sedikit hukum yang mengatur penggunaan komputer. Hal ini karena komputer merupakan penemuan baru dan sistem hukum kesulitan mengikutinya.Kasus pertama kejahatan komputer terjadi pada tahun 1966, saat programer untuk suatu bank membuat suatu tambahan di program sehingga program tersebut tidak dapat menunjukan bahwa pengambilan dari rekeningnya telah melampau saldo. Ia dapat terus menulis cek walau tidak ada lagi uang di rekeningnya. Penipuan ini terus berlangsung hingga komputer tersebut rusak, dan pemrosesan secara manual mengungkapkan saldo yang telah minus. Programer tersebut tidak dituntut melakukan
kejahatan komputer, karena peraturan hukumnya belum ada.
2.3  Perlunya Budaya Etis
Hubungan antara pimpinan dengan instansi merupakan dasar budaya etika. Jika instansi harus etis, maka manajemen puncak harus etis dalam semua tindakan dan kata-katanya.
Bagaimana Budaya Etika Diterapkan? Tugas manajemen puncak adalah memastikan bahwa konsep etikanya menyebar diseluruh organisasi, melalui semua tingkatan dan menyentuh semua pegawai. Para eksekutif mencapai penerapan ini melalui suatu metode tiga lapis, yaitu dalam bentuk pernyataan tekad (komitmen), program-program etika, dan kode etik khusus pada setiap instansi.
Komitmen adalah pernyataan ringkas mengenai nilai-nilai yang ditegakan oleh pimpinan instansi. Tujuan komitmen ini adalah menginformasikan orang-orang dan organisasi-organisasi baik di dalam maupun di luar instansi mengenai nilai-nilai etika yang diberlakukan. Program etika adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai aktivitas yang dirancang untuk mengarahkan pegawai dalam melaksanakan pernyataan komitmen. Suatu aktivitas yang umum adalah pertemuan orientasi yang dilaksanakan bagi pegawai baru. Selama pertemuan ini, subyek etika mendapat cukup perhatian.Contoh lain dari program etika adalah audit etika. Dalam audit etika, sesorang auditor internal mengadakan pertemuan dengan seorang manajer selama beberapa jam untuk mempelajari bagaimana unit manajer tersebut melaksanakan pernyataan komitmen. Kode etik khusus instansi, Banyak instansi telah merancang kode etika mereka sendiri. Kadang-kadang kode ini diadaptasi dari kode etik dari organisasi sejenis.
2.4  Alasan Pentingnya Etika Komputer
Terbagi atas kelenturan logika (Logical malleability), factor transformasi, dan faktor tak kasat mata (invisibility factors).
1. Kelenturan logika.
Yang dimaksud dengan kelenturan logika (logical malleability) adalah kemampuan memprogram komputer untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Komputer bekerja tepat seperti yang diinstruksikan oleh programernya. Kelenturan logika inilah yang menakutkan masyarakat. Tetapi masyarakat sebenarnya tidak takut terhadap komputer. Sebaliknya masyarakat takut terhadap orang-orang yang memberi
perintah di belakang komputer.
2. Faktor transformasi.
Alasan kepedulian pada etika komputer ini didasarkan pada fakta bahwa komputer dapat mengubah secara drastis cara kita melakukan sesuatu. Kita dapat melihat transformasi tugas yang sama pada semua jenis organisasi. Contoh yang baik adalah surat electronik (e-mail). Email tidak hanya memberikan cara bertelepon yang lain, tetapi memberikan cara komunikasi yang sama sekali baru. Transformasi serupa dapat dilihat pada cara manajer mengadakan rapat. Dulu para manajer harus berkumpul secara fisik di satu lokasi, sekarang mereka dapat bertemu dalam bentuk konferensi video.

3. Faktor tak kasat mata.

Alasan ketiga minat masyarakat pada etika komputer adalah karena semua operasi internal komputer tersembunyi dari penglihatan. Operasi internal yang tidak nampak ini membuka peluang pada nilainilai pemprograman yang tidak terlihat, perhitungan rumit yang tidak terlihat dan penyalahgunaan yang tidak terlihat.
- Nilai-nilai pemprograman yang tidak terlihat adalah perintahperintah yang programer kodekan menjadi program yang mungkin dapat atau tidak menghasilkan pemrosesan yang diinginkan pemakai. Selama penulisan program, programer harus membuat serangkaian pertimbangan nilai seperti bagaimana program mencapai tujuannya. Ini bukan suatu tindakan jahat dari pihak programer, tetapi lebih merupakan kurangnya pemahaman. Contoh dampak yang dapat timbul dari nilai-nilai pemrograman yang tidak terlihat adalah insiden nuklir Three Mile Island. Operator pembangkit listrik tersebut telah dilatih menangani keadaan gawat dengan menggunakan suatu model matematika. Model tersebut hanya dirancang untuk mensimulasikan terjadinya kerusakan
tunggal. Namun yang terjadi adalah kerusakan berganda secara serentak. Ketidakmampuan komputer memberikan apa yang diinginkan pemakainya disebabkan oleh faktor tak kasat mata ini.
- Perhitungan rumit yang tidak terlihat berbentuk program-program yang demikian rumit sehingga tidak dimengerti oleh pemakai. Manajer menggunakan tanpa mengetahui sama sekali bagaimana program tersebut melaksanakan perhitungan.
- Penyalahgunaan yang tidak terlihat meliputi tindakan yang sengaja melanggar batasan hukum dan etika. Semua tindakan kejahatan computer termasuk kategori ini, demikian pula tindakan tidak etis seperti mengganggu hak privasi individual, dan memata-matai. Masyarakat karena itu sangat memperhatikan komputer – bagaimana komputer dapat diprogram untuk melakukan hampir segala sesuatu, bagaimana computer mengubah sebagian besar cara kita melakukan sesuatu, dan fakta bahwa yang dikerjakan komputer pada dasarnya tidak terlihat. Masyarakat mengharapkan bisnis diarahkan oleh etika computer dan dengan demikian meredakan kekhawatiran tersebut.

BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Perilaku Etika yang diarahkan oleh moral, etika, dan hukum.
Undang-Undang mengenai komputer sudah banyak diterapkan di berbagai negara untuk mengantisipasi kekhawatiran dalam hak mendapatkan akses data, privacy, kejahatan komputer. Di beberapa negara maju, undang-undang ini dapat mempengaruhi penggunaan komputer ditempat lain di dunia. Perilaku etika juga diarahkan melalui individu oleh etika dan moral. Etika dalam memanfaatkan teknologi komputer amat penting bagi penggunanya karena mereka memiliki persepsi dan ketakutan tertentu yang terkait dengan penggunaan komputer. Dalam segala bidang yang hampir menggunakan teknologi menimbulkan kekhawatiran dapat mengubah kehidupan sehari-hari atau menjadikan komputer tidak terlihat bagi yang menjadi korban.
Perusahaan besar memiliki kewajiban untuk menetapkan budaya etika yang harus diikuti oleh para karyawannya. Budaya ini didukung oleh kredo perusahaan dan program-program etika. Di setiap perusahaan tentunya memiliki auditor internal perusahaan yang berkontirbusi terhadapa penggunaan etis sistem informasi dengan cara audit-operasional, finansial dan beriringan dalam melibatkan diri dalam desain sistem pengendalian internal. Ketika perusahaan merencanakan untuk menetapkan kode etiknya sendiri dan mengikut praktik-praktiknya.
Penggunaan komputer di dunia bisnis diarahkan oleh nilai moral dan etis manajer, spesialis, organisasi, dan pengguna serta adanya ketentuan hukum yang berlaku. Hukum adalah yang termudah dalam merepresentasikan karena bersifat tertulis. Namun etika tidak terdefinisi demikian, dan bahkan tidak disetujui semua anggota masyarakat. Wilayah etika komputer kompleks macam ini perlu diperhatikan. Untuk menerapkan budaya etika yang sebagian besar dimiliki oleh CEO dari sebuah perusahaan adalah menentukan kredo perusahaan, program etika, dan kode perusahaan yang telah disesuaikan. Perusahaan kredo perusahaan merupakan sebuah pernyataan singkat mengenai nilai-nilai yang ingin dijunjung oleh sebuah perusahaan.tujuannya dalah untuk memberitahukan individu dan organisasi, baik di dalam ataupun diluar, akan nilai-nilai etis yang dimiliki perusahaan tersebut. Kemudian program etika adalah sebuah upaya yang terdiri atas berbagai aktivitas yang didesain untuk memberikan petunjuk kepada para karyawan untuk menjalankan kredo perusahaan. Aktivitas yang biasa dilakukan adalah sesi orientasi yang diadakan untuk karyawan baru. Selama sesi itu perhatiannya yang cukup besar ditujukan untuk masalah etika.
3.2 Contoh Kasus
Sebuah perusahaan memiliki karyawan yang banyak dan memiliki fasilitas internet yang sangat memadai dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Tentu pekerjaan yang banyak dapat diselesaikan dengan cepat. Bagi seseorang karyawan yang mungkin memiliki kinerja rata-rata baik mendapatkan banyak waktu luang lebih. Mereka memanfaatkannya untuk mengunduh film, lagu, file-file yang diluar dari task perusahaan. Kemudian pada saat browsing sebagian data hilang akibat akses internet tersebut. Sesuai dengan kode etik dan moral pengguna fasilitas akan dikenakan sanksi berlaku jika melakukan kelalaian.
KESIMPULAN
Pemanfaatan internet dalam perkembangan teknologi sejatinya harus memiliki rasa tanggung jawab serta kode etik dan moral yang baik. Kesalahan-kesalahan yang tidak perlu yang malah mengancam keberlangsungan aktifitas yang seharusnya tidak ada masalah. Kode etik harus berdasarkan visi dari perusahaan dan cita-cita pendiri. Perusahaan akan dikatakan bermoral dan beretis jika management top level memberikan edukasi dan panduan yang baik.



Daftar Pustaka
[1] Thomsett, Rob. 2002. Radical Project Management. Prentice Hall PTR.
[2] http://mutiara-santika.blog.ugm.ac.id/2012/03/25/kode-etik-dalam-menggunakan-komputer/
[3] Schell, George P.2007. Management Information System, 10th ed. Pearson Prentice Hall: New Jersey.
 [4] http://batukuya91.blogspot.com/p/etika-pemanfaatan-teknoogi-informasi.html

Jurnal 5 - Etika dan Profesionalisme TSI





Kinerja Sertifikasi dan Profesionalisme dalam Dunia Globalisasi
Dimas Haryo Adhiatama1 ,Sri Rahayu2,Intan Lestari3
Jurnal Etika & Profesionalisme
Universitas Gunadarma
Jalan Margonda Raya no. 100, Depok 16424 Gedung 4 Lantai 1 D419
Email : infokom@gunadarma.ac.id

1dimryo@gmail.com
2in.intanlestari@gmail.com
3ayuuuunya@gmail.com

Abstrak -  Profesionalisme bekerja tidaklah hanya berdasarkan kepada sebuah standarisasi berupa sertifikat. Akan tetapi berdasarkan kinerja dan hasil yang didapatkannya. Belum tentu orang yang memiliki sebuah sertifikasi dapat menyelesaikan masalah. Apakah jika seorang yang mengambil sertifikasi CISCO dapat menyelesaikan program Oracle?.
Secara garis besar, sertifikasi dapat berguna sebagai pengakuan atas keahlian dan knowledge yang dimiliki. Berdasarkan keahlian yang dipelajari terlebih dahulu dan melalui fase uji kelayakan. Sertifikasi dapat berguna untuk mengembangkan karir seseorang. Promosi jabatan atau gaji dapat menggunakan sertifikasi sebagai syarat dan penunjang. Sesuai dengan perkembangan IT, tentunya sertifikasi harus terus diperbaharui berdasarkan produk dari vendor yang ada. Dalam memilih tren sertfikasi perlu juga memperhitungkan profesi apa yang diinginkan.
Profesi dalam bidang IT merupakan sekumpulan orang yang mau menyelesaikan masalah dengan tantangan, tanpa rasa menyerah, jenuh, dan sebagainya. Inilah yang membentuk sebuah kinerja yang baik. Bukan hanya dengan sertifikasi yang dapat di buat dan dipalsukan.

Abstracts - Professionalism works is not only based on a standardized form of certificates. However, based on performance and the results he got. Not necessarily people who have a certification can resolve the issue. Whether, if a person who took the CISCO certification program can complete Oracle ?.
Broadly speaking, the certification can be useful in recognition of the skills and knowledge possessed. Based on the skills learned in advance and through the due diligence phase. Certification can be useful to develop one's career. Promotion or salary can use as a condition of certification and support. In accordance with the development of IT, of course, the certification must be continuously updated based on products from existing vendors. In choosing sertfikasi trend should also take into account what is desired profession.
Professionals in the field of IT is a group of people who want to resolve the issue with the challenge, without a sense of surrender, saturated, and so on. This is what forms a good performance. Not only with certification that can be created and forged.

Kata Kunci - Sertifikasi, IT, Profesionalisme, Globalisasi.




BAB 1
PENDAHULUAN
Dunia profesi dalam era globalisasi menjadi salah satu tolak ukur dan keharusan sebagai syarat mutlak yang menggambarkan seseorang berdasarkan keahliannya. Salah satu kriteria profesionalisme seseorang dapat di ketahui dan di nilai. Sertifikasi sejatinya merupakan sebuah standarisasi atas keahlian berdasarkan kompetensinya. Hal ini juga menambah dalam penilaian untuk mempermudah merekrut tenaga kerja dalam bidang IT menjadi lebih spesifik dan efisien.
Dampak lain yang diberikan sertifikasi dimiliki  seseorang yang bekerja di perusahaan yang multinasional atau internasional, adalah mereka mendapatkan pengakuan atas kredibilitasnya, menambahkan reputasi dan dapat meningkatan posisi dan jabatan.
Perkembangan dan persaingan di era globalisasi ini semakin ketat, khususnya di bidang IT. Berbagai macam inovasi dan vendor terus berupaya mengembangkan kredibilitas serta hasil inovasinya. Contoh  yang dapat mengeluarkan sertifikasi oleh vendor besar adalah MCSE (by Microsoft), CCNA (Cisco), CNE (Netware), RHCE (Red Hat) etc. Biasanya skill yang dibutuhkan untuk memperoleh sertifikat ini sangat spesifik dan sangat berorientasi pada suatu produk dari vendor tersebut .
Sisi lain yang perlu diperhatikan dalam sertifikasi adalah jumlah pendapatan gaji yang akan mereka terima. Semakin berkembangnya produk, kemungkinan akan menambah standarisasi dalam sebuah nilai sertifikasi. Untuk mendapatkan sertifikasi juga tidaklah mudah dan murah. Keahlian yang nanti akan dipelajari sampai mahir memiliki tingkatannya. Hal ini juga yang mempengaruhi seseorang dalam mengambil sertifikasi. Proses ini sama saja dengan mengambil pendidikan tingkat tinggi yang memerlukan waktu beberapa tahun. Untuk sebagian pekerja kalangan di bidang IT, mereka sangatlah menginginkanya namun sebagian lagi tidak karena harus memenuhi kebutuhan mendesak dalam roda perekonomian.




BAB 2
LANDASAN TEORI

2.1  Pengertian Sertifikasi
Definisi sertifikasi adalah independen, obyektif, dan tugas yang regular bagi kepentingan profesional dalam satu atau lebih area di teknologi informasi. Sertifikasi memiliki esensi yaitu sebuah evaluasi yang komprehensif dalam segi teknis dan non-teknis berkenaan sistem informasi yang mencakup proses dan metode yang dicetuskan melalui proses akreditasi yang pada akhirnya memungkinkan penggunaan dan pengelolaan sistem informasi hingga mencapai suatu standar kriteria yang dibutuhkan.
2.2   Tujuan Sertifikasi
Keuntungan yang di dapatkan dengan adanya sertifikasi dan perharuannya adalah:
•      Membentuk tenaga praktisi TI yang berkualitas tinggi,
•      Membentuk standar kerja TI yang tinggi,
•      Pengembangan profesional yang berkesinambungan.
•      Mendapatkan pengakuan yang dapat dipercaya akan performa seseorang dalam penguasaan dan penggunaan produk tertentu.
•      Memungkinkan seseorang untuk terpacu belajar dan meningkatkan kemampuan sebagai upayanya mempertahankan performa dan usaha untuk mendapatkan sertifikasi
•      Mengukur kemampuan seseorang dalam ruang lingkup profesionalisme bidang kerjanya.
2.3  Program Sertifikasi
Sertifikasi adalah hal penting bagi para profesional bidang software engineering dan berbagai keahlian berkenaan teknologi informasi. Program sertifikasi dimotori oleh pengembang dan produsendalam mengedukasi pengguna profesional. Beberapa program sertifikasi yang diminati:
  1. Apple Inc. mensponsori The Apple Certification Program
  2. Cisco System mensponsori The Cisco Career Certifications Program
  3. Hewlett-Packard mensponsori beragam sertifikasi yang berhubungan dengan teknologi peranti Hewlett-Packard
  4. Sertifikasi IBM
  5. Microsoft Corporation mengadakan Microsoft Certified Professional
  6. MySQL Certification Program
  7. Novell Certication Program
  8. The Oracle Certification Program
  9. Red Hat: The Red Hat Certification Program
  10. Sun Microsystems : The Sun Certified Professional Program
2.4  Pengertian Kinerja
Kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance yang berarti prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang. Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Performance atau kinerja merupakan hasil atau keluaran dari suatu proses (Nurlaila, 2010:71). Menurut pendekatan perilaku dalam manajemen, kinerja adalah kuantitas atau kualitas sesuatu yang dihasilkan atau jasa yang diberikan oleh seseorang yang melakukan pekerjaan (Luthans, 2005:165).

Kinerja merupakan prestasi kerja, yaitu perbandingan antara hasil kerja dengan standar yang ditetapkan (Dessler, 2000:41). Kinerja adalah hasil kerja baik secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diberikan (Mangkunagara, 2002:22).
Faktor - Faktor yang mempengaruhi Kinerja
a. Efektifitas dan efisiensi 
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif dinamakan tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak penting atau remeh maka kegiatan tersebut efesien (Prawirosentono, 1999:27).
b. Otoritas (wewenang)
Otoritas menurut adalah sifat dari suatu komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan suatu kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya (Prawirosentono, 1999:27). Perintah tersebut mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dalam organisasi tersebut.
c. Disiplin 
Disiplin adalah taat kepda hukum dan peraturan yang berlaku (Prawirosentono, 1999:27). Jadi, disiplin karyawan adalah kegiatan karyawan yang bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan organisasi dimana dia bekerja.
d. Inisiatif 
Inisiatif yaitu berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.
2.5  Pengertian Profesionalisme
Profesionalisme adalah kompetensi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar dan juga komitmen dari para anggota dari sebuah profesi untuk meningkatkan kemampuan dari seorang karyawan.
Ciri-ciri Profesionalime yang harus dimiliki oleh seorang IT berbeda dari bidang pekerjaan yang lainnya. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
1.
   Memiliki kemampuan / keterampilan dalam menggunakan peralatan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan IT. Seorang IT harus mengetahui dan mempraktekkan pengetahuan Informasi Teknologinya ke dalam pekerjaannya.
2.
    Punya ilmu dan pengalaman dalam menganalisa suatu software atau Program.
3.
    Bekerja di bawah disiplin kerja
4.   
Mampu melakukan pendekatan disipliner
5.
    Mampu bekerja sama
6.
    Cepat tanggap terhadap masalah client.












BAB 3
PEMBAHASAN
3.1 Pengaruh Sertifikasi Terhadap Kinerja
Kinerja seseorang tidaklah sepenuhnya terpengaruh hanya berdasarkan sebuah sertifikasi. Hal ini merujuk kepada sebuah sertifikasi dapat mengalami "daya guna kosong" seiring perkembangan sebuah produk. Hanyalah sebuah pengakuan dan standarisasi atas keahlian yang dimiliki. Sertifikasi didapatkan juga tidak mudah, membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan harus diperbaharui. Sertifikasi dalam bidang IT memiliki banyak program. Penentu kinerja dapat dilihat dari faktor lain seperti faktor psikologis, kepribadian, dan sebagainya. Interest seseorang dalam spesialisasi profesi menentukan kinerja juga. Banyak kasus juga sertifikasi dipalsukan demi tercapainya sebuah syarat formalitas. Ini dikarenakan dengan adanya sebuah sertifikasi, perencanaan karir, perhitungan gaji, meningkatkan marketability sebuah perusahaan. Dampak eksternal dari sertifikasi adalah menaikan pengakuan industri secara internasional, memberikan alur profesi yang jelas, mendorong pegawai melakukan proses belajar lebih lanjut.
Kinerja juga dapat dilihat dari pengalaman. Walaupun sertifikasi dan pengalaman adalah dua hal yang saling melengkapi. Membuktikan skill dan knowledge akan sebuah produk yang anda miliki sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan atau profesi sesuai bidang anda.
3.2 Contoh Kasus
Di sebuah kedai makanan, terjadi perampokan terhadap pengunjung. Ada sebuah CCTV terpasang. Sesuai dengan prosedur maka barang bukti tersebut diamankan. Dengan memanggil ahli dari digital forensik diharapkan perampok dapat ditangkap. Sang ahli memeriksa dan menganalisa melalui hard disk server. Namun sayangnya barang bukti tidak lengkap dan baik. Barang bukti yang disertakan masih merecord. Alhasil data yang didapat tidak ditemukan. Seorang profesional yang sudah ahli dan memiliki sertifikasi belum tentu dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Adanya beberapa faktor eksternal atau perkembangan IT yang tidak sesuai dengan sertifikasinya.
KESIMPULAN
Teknologi Informasi, dengan demikian telah banyak berkecimpung dengan spesifikasi dalam keahlian tertentu dan melalui proses sertifikasi perlu diambil langkah meneguhkan. Ini dikarenakan sertifikasi dapat mengalami masa-masa discontinue seiring dengan tidak terpakainya produk developer. Dalam pemilihan profesi sebaiknya anda harus jeli dalam mengambil sertifikasi. Di perkembangan yang sangat cepat ini dalam menentukan profesi sebaiknya dilakukan tes bakat atau membaca kepribadian. Karena jika anda tidak dapat menjalaninya dengan nyaman, hasil yang didapat dari pekerjaan akan terasa sulit dan sia-sia.


Daftar Pustaka
[1] Sulianta, Feri.2008. Seri Referensi Praktis:Manajemen TI.PT Elex Media Komputindo:Jakarta.
[2] http://www.kajianpustaka.com/2014/01/pengertian-indikator-faktor-mempengaruhi-kinerja.html, 17 Juni 2015
[3]http://rezapette.blogspot.com/2013/10/it-forensik.html, 16 Juni 2015
[4] Utama, Irwin.2009. Sukses Sertifikasi MCSA/MSCE. PT Elex Media Komputindo.Jakarta.